Kamis, 05 Januari 2017
Rabu, 21 Desember 2016
OrangeTV: Om Telolet Om
BIASANYA
menonton tayangan televisi via jalur UHF dan atau digital menggunakan
saluran FTA antena parabola biasa, dengan maksud hati menyenangkan
anak-anak pas musim libur sekolah begini, eh baru dua hari
mengaktifkan paket Family di Orange TV, tahu-tahu
National Geographic, Nat Wild, Fox Crime dan sejumlah channel
milik Fox grup yang disukai si sulung hilang dari tayangan.
(Bagi si bungsu sih tak ada masalah; Karena Disney Channel,
Disney Junior, dan sejenisnya masih ada). Dalam running text
di layar, pihak OrangeTV memberitahukan bahwa kerjasama dengan
pihak Fox memang tidak lagi diperpanjang, dan sebagai gantinya
ia akan menayangkan channel-channel yang kompetitif di
pasaran. Wih, kompetitif di pasaran, apa pula artinya? Padahal,
siapapun tahu, channel-channel yang hilang tadi tadi adalah
semacam menu wajib ketika orang berlangganan pay tv.
Iya,
paket Ku-band yang saya ambil hanyalah yang termurah (?), 'hanya' 80
ribu sebulan, atau kurang dari tiga ribu perak sehari. Tahu tidak,
setelah Fox grup tadi hilang, barusan, ketika saya cek ulang,
harganya kini sudah menjadi 99 ribu. Oh, sudah channel idaman
menghilang, harganya dimahalkan pula. Atau, bagi pelanggan Orange
TV, ini ibarat pepatah; sudah jatuh tertimpa tangga. Makanya, tak
berlebihanlah mungkin bila para pelanggan menghimpun kekuatan
bersama-sama ngluruk ke kantor OrangeTV dalam aksi
super damai sambil membentangkan spanduk bertuliskan: Om
Telolet Om!
Saya
intip situs Satelit Indonesia dan benarlah adanya, kekecewaan
para pelanggan terlontar di kolom komentar. Sekadar umpatan, sampai
ancaman akan berhenti berlangganan dan segera pindah ke pay tv
lain.
Benarlah
ungkapan seorang teman, bisnis pay tv di Indonesia sudah
mencapai titik jenuh. Persaingan antar perusahaan sengitnya minta
ampun. Yang gagal dalam kancah 'perang' (channel, tarif dst),
taruhannya gulung tikar. Lalu, dengan kenyataan Orange TV yang
(kata sebagian pelanggan) mahal sekali tarifnya namun kini minus Fox
grup, akankah ia akan tetap eksis atau segera ditinggal pergi para
pelanggan untuk kemudian menyusul pay tv lain yang kini sudah
menjadi mendiang?
Analisa
amatiran yang sempat saya baca adalah, bila sebuah pay tv
bangkrut, adalah mengubah haluan dengan memanfaatkan infrastruktur
yang dimilikinya untuk kemudian berubah bentuk menjadi hosting
channel FTA macam Ninmedia. Bagaimana pendapat Anda? *****
Kamis, 08 Desember 2016
Netralitas TV Berita
BILA
suka
menonton siaran berita, stasiun televisi manakah yang paling betah
Anda untuk tidak segera menombol remote
control
demi pindah channel? MetroTV,
KompasTV, I-NewsTV
atau tvOne?
Penonton televisi punya kedaulatan penuh untuk ganti saluran yang
ditontonnya sesuka hati. Ini mungkin yang diterapkan pemilik televisi
yang kadang sesuka hati pula menayangkan jargon partai miliknya di
stasiun televisinya. Tidak sekadar jargon dan mars partai yang tidak
sedikit anak-anak hafal syairnya karena tayangan itu begitu seringnya
muncul, tetapi kalau diperhatikan, kentara betul bos stasiun televisi
yang merangkap sebagai bos suatu partai memanfaatkan frekuensi
televisi yang sebenarnya milik publik itu sebagai corong untuk
kampanye bahkan di luar musim kampanye.
Tak
perlulah dideretkan siapa-siapa saja dia dan stasiun televisi mana
itu. Penonton televisi umumnya sudah tidak bodoh. Tetapi begini;
adakah sanksi tegas dari pihak berwenang yang terkait dengan
'pelanggaran' tersebut dengan menjewer pengelola sebuah stasiun
televisi yang memanfaatkan frekuensi seenak udel dan kepentingannya,
dengan (misalnya) ancaman mencabut ijinnya. Secara selentingan sih
pernah dengar kabar itu, yakni kabar bahwa ijin stasiun televisi yang
masa berlakuknya supuluh tahun itu akan dibekukan, tetapi minilik
praktik tersebut masih saja terjadi hingga kini, kok
rasanya kita sebagai penonton televisi kudu memanfaatkan kadaulatan
secara penuh; jangan tonton atau matikan saja televisi.
Semudah
itu? Iya. Namun, tidak juga sih.
Karena penonton televisi tidak hanya suka berita, ada juga yang demen
tayangan dangdut alay atau sinetron-sinetron dan opera sabun ala
India. Dan perhatikan; 'kampanye' partai milik si bos sering muncul
sebagai running
text bahkan
di acara anak-anak. Alamaakk....
Baiklah,
sekarang sudah ada CNN Indonesia. Stasiun televisi berita yang
(menurut slogannya) kelas dunia berbahasa Indonesia yang di negeri
ini mengudara sebagai bagian dari perusahaan Chaerul Tanjung. Bos
TransMedia ini sejauh ini dikenal bukan sebagai politikus. Ia dokter
gigi yang sukses mengguritakan bisnisnya. Itu pula yang konon membuat
kantor pusat CNN di Amerika memilihnya sebagai partner di Indonesia.
Mengusung
tagline News We Can Trust, mudah-mudahan ia bisa sungguhan
dipercaya sebagai yang bukan sekadar menggendong secara diam-diam
kepentingan (politis) pemiliknya yang entah condong ke parpol apa.
Nah,
walau sinyalnya tertangkap secara cekot-cekot di parabola saya,
syukurlah sudah sekian bulan ini CNN Indonesia mengudara secara FTA
di Surabaya sebagai salah satu konten yang sedang bersiaran secara
ujicoba pada sistem penyiaran digital terrestrial. Ia ada di MUX TVRI
kanal 35 bersama Inspira dan NusantaraTV dan sejumlah konten TVRI
lainnya. *****
Senin, 08 Agustus 2016
Memindah Antena Parabola
![]() |
| Saat masih di atas dak. |
Sebenarnya,
secara prinsip, memindah antena parabola dengan memasang baru itu
relatif tidak jauh beda. Yakni harus memenuhi kaidah-kaidah baku.
Antara lain, tahu letak satelit yang hendak dituju, tidak terhalang
bangunan atau benda padat lain, dan tiang harus tegak lurus. Itu hal
dasar. Walau, ada kalanya, karena pengalaman, ada teknisi yang walau
tiang penyangga antena tidak tegak lurus bisa juga pointing. Tetapi,
kalau saya yang amatiran ini, posisi tegak lurus itu hal mutlak.
Namanya juga newbie, bawaannya ingin sesuai pakem melulu.
Juga
karena sedang direnovasi, antena parabola saya yang selama ini saya
letakkan di dak atap rumah, harus saya pindah ke tempat lain agar
tidak menghalangi aktifitas para tukang yang sedang membuat kamar di
lantai dua. Seperti sudah pernah saya posting, antena jaring saya itu
berukuran 6 feet merek Paramount dengan empat LNB (Palapa-D,
Telkom-1, Asiasat-7 dan Chinasat-11).
Demi
hal tersebut, saya harus mengorbankan dengan memapras pohon belimbing
di depan teras rumah. Tidak sampai memotong total sih, karena nanti,
kalau lantai dua sudah jadi, si Paramount saya itu akan saya naikkan
lagi. Tadinya saya berpikir akan membeli tiang besi ke tukang rongsok
setinggi sekitar dua setengah meter, karena tiang yang biasa saya
pakai di dak rumah itu hanya pendek sekali. Padahal kalau ditaruh di
depan rumah kan harus agak tinggi, agar LNB-nya tidak diutak-atik
anak-anak kecil teman-teman si bungsu yang suka bermain di halaman
rumah saya. Tetapi saya punya ide agar irit. Yakni, dengan hanya
memakai tiang dari kayu, dengan bagian atas yang saya kasih pipa PVC
ukuran 2”, yang celakanya; ternyata saat saya masuki lubang tiang
mounting susah sekali. Tak bisa mak bles masuk sesuai
harapan, tetapi hanya sebagiannya saja. Saya pikir segitu pun tak
apa-apalah. Yang penting gak gampang goyang, yang penting sudah
relatif kuat.
Tidak
sendiri sih waktu memindahkannya. Karena si Paramount itu saya pindah
secara utuh; tidak melepas LNB, tidak melepas tiang fokus. Dengan
dibantu seorang tetangga, akhirnya si jamur saya turun takhta; dari
yang tadinya di atas dak, menjadi di depan rumah.
Setelah
dipindah, tentu saja pekerjaan belum selesai: saatnya cek sinyal.
Apakah hilang, ataukah tinggal? Untuk ritual ini saya sangat terbantu
dengan jimat sakti bernama satfinder. Dengannya, acara
tracking menjadi tak perlu bawa-bawa reciever dan tv portable.
Awalnya beberapa TP di satelit yang saya koleksi sempat terpantau
zonk. Tetapi setelah saya goyang dumang beberapa saat, buzzer
pada satfinder menjerit; batang signal terpantau sudah.
Tinggal memaksimalkan saya.
Syukurlah,
setalah diutak-atik sebentar, semua channel masih terpantau aman.
Walau masih belum seperti saat di dak atap, CNN Indonesia yang
biasanya anteng di 75%, kini agak turun sedikit dari angka itu tetapi
yang penting semua tetap saja cling. Termasuk channel SpaceToon
kesukaan si bungsu, dan Prambors Channel kegemaran si sulung.
Celakanya, belakangan ini malah saya yang kurang suka nonton tivi,
dan hanya demen utak-atik dishnya saja. Hehe..*****
Selasa, 17 Mei 2016
Olala, Mudahnya Tracking Ninmedia
ADA
saja yang gemes dengan kehadiran Ninmedia di satelit Chinasat-11
(98.0° E); yang sudah lock geregetan karena channel
yang Coming Soon tetap saja Kaming Sun, sementara yang belum
lock dan berkali-kali tracking tak nyantol-nyantol,
lebih gemes saja sepertinya. Yang suka cita adalah para teknisi yang
mendapat berkah dari hadirnya tv satelit FTA yang bisa ditangkap
hanya pakai dish offset itu. Dan deretan penikmat berikutnya
tentu saja toko perlengkapan parabola dan produsen alat-alat serupa.
Iya,
dengan hanya menggunakan dish kecil ex pay tv,
penempatannya tak makan space, lebih praktis. Dan bagi orang
yang belum tahu, bisa-bisa yang sudah pasang Ninmedia disangkanya
berlangganan pay tv. :)
![]() |
| Pakai tiang bekas kaki kipas angin KDK. (foto: ewe) |
Saya
juga tracker anyaran, saya juga newbie. Tetapi
alhamdulillah, sudah berhasil lock si Ninmedia, baik pakai
dish offset maupun menempelkan LNB Ku-band pada parabola
jaring 6 feet milik saya. Tunggu dulu, saya bukan teknisi, saya hanya
penghobi, karenanya tentu saja saya bukan master.
Penghobi
parabola itu sering tidak dipahami oleh tetangga. (Jadi curhat
nih...) naik turun tangga demi tracking malah ditanya, “Belum
dapat siaran ya, Mas?”
Aduh
Biyung......, mau dijawab bagaimana, coba. Mau diterangkan detail
belum tentu dia paham, gak diterangkan, sampai kiamat pun ia
menyangka kita adalah makhluk kurang kerjaan. Hehe.. Ah peduli amat,
woles aja, gan...
![]() |
| 74%, lumayanlah. (foto: ewe) |
Lokasi
tempat saya menaruh piringan antena itu hanya berjarak 2,5 meter
dengan dinding rumah tetangga di sisi barat. Dengan kondisi begitu,
bisakah ketangkap si Ninin?
Mula-mula
saya taruh bekas kaki kipas angin itu pada bidang yang saya anggap
rata. Dan karena di rumah saya punya waterpass (namanya juga
pekerja bangunan, pasti punyalah alat itu) saya gunakan perangkat
tersebut untuk memastikan bahwa tiang itu pada posisi tegak-lurus.
Sebagai newbie, jadi mesti hati-hati. Beda dengan para master
yang karena sudah pinter, walau tiang agak doyong pun masih bisa
tracking.
![]() |
| Si Ninmedia ke-lock juga pada dish mesh 6 feet. (foto: ewe) |
Saatnya
beraksi!
Saya
setting menu find satellite di Satfinder pada posisi
satelit Chinasat-11 di transponder 12500 V 43200. Naik-turunkan dish
pelan-pelan, penuh perasaan. Goyang dumang kiri-kanan, juga secara
perlahan. Dan, tiiitttttt..... buzzer di satfinder
menjerit. Batang sinyal terpampang, kecil sih; tak sampai
40%.. Tidak apa-apa. Tinggal memaksimalkan saja, mengepaskan saja.
![]() |
| Corat-coret dish, biar gaya. Haha... (foto: ewe) |
Bagaimana,
sudahkah Anda lock Ninmedia hari ini? *****
Jumat, 25 Maret 2016
Selamat Tinggal TV Digital Terrestrial
TENGOKLAH
bilah samping kiri blog ini; posting yang nangkring teratas sebagai
yang sering dibaca adalah mengenai tv digital. Beratus-ratus komentar
mampir di salah satu artikel saya tentang pengganti sistem analog
dalam dunia pertelevisian itu. Tandanya, masih banyak yang berminat
menikmati siaran tv digital terrestrial yang sayangnya sampai kini
progress-nya
hanya begitu-begitu saja. Ya, bisa jadi saya salah. Bisa jadi
regulasi yang lebih matang telah siap dieksekusi untuk diterapkan di
lapangan, dan sebagai pemirsa kita akan sangat dimanjakan dengan
gambar-suara bening plus konten siaran yang banyak sekali dengan
genre
dan segmentasi beragam.
Jujur,
sejak asyik belajar tracking pakai antena parabola, saya sudah agak lama tidak melihat konten
siaran pada kanal digital terrestrial, sehingga kalau ditanya ada
berapa channel
yang sekarang on
air
di Surabaya ini, saya hanya bisa angkat bahu; tidak tahu.
Tentang
tv digital, boleh jadi kita yang tinggal di kota ini sudah
ketinggalan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman.
Sementara kita yang di kota masih mengharap digital terrestrial
(sistem penyiaran yang dipancarkan lewat antena pemancar) mereka sudah
menangkap dengan kualitas HD siaran dari banyak satelit, tidak cuma
siaran yang terpancar dari satelit Palapa dan Telkom saja. (Eit,
eit, jangan
bicara yang
pay tv ya,
saya
sedang bicara tentang yang
FTA saja,
walau –dengan reciever
tertentu yang bisa dipakai fly--
saudara kita di pedalaman sudah bisa menembus ke konten premium yang
masuk dalam jajaran channel pay
tv).
Kecuali
parabola milik pay
tv,
bukankah yang untuk FTA ukurannya sebesar gajah dan makan tempat.
Padahal rumah kita di kota kurang ada tersedia tempat untuk menaruh
dish
yang minimal berdiameter 1,6 meter itu. Kendala inilah yang
sepertinya dibidik Ninmedia, sebuah perusahaan yang menghimpun
pemilik konten siaran untuk menayangkannya lewat satelit secara
gratis (FTA-- Free
to Air)
dengan menggunakan parabola kecil type offset
seperti yang lazim digunakan pay
tv.
Ya,
kita masih sedang membicarakan satelit Chinasat11
yang kini hangat diperbincangkan, yang konon nanti berisi lebih dari
200 (baca: duaratus!) konten siaran dan itu gratis selamanya. Dengan
jangkauan (beam)
seluruh Indonesia, ia manjadi momok bagi program tv digital yang kita
ungkap di awal tulisan ini.
Gambarannya
begini; demi bisa bersiaran di kanal digital terrestrial, sebuah
lembaga penyiaran yang tidak memenangi pengadaan MUX, harus menyewa
kepada si pemenang dengan harga sekian puluh juta rupiah sebulan
untuk jangkauan satu kota tertentu. Katakanlah ia akan bersiaran di
lima kota, kalikan saja biaya sewa MUX itu dengan nominal tersebut.
Sementara, dengan menyewa slot siaran di satelit Chinasat11,
ambil contoh, penyelenggara siaran cuma membayar konon hanya 150 juta
rupiah sebulan dengan jangkauan seluruh Indonesia. Simple mana, coba.
Dan murah mana? Tentu murah sewa slot satelit Chinasat11 yang ditawarkan Ninmedia bukan?
Kini,
yang sudah aktif baru 1 transponder (dari lima yang haknya dipegang
Ninmedia) dan masing-masing transponder akan berisi 45 slot siaran.
Beberapa stasiun televisi lokal/nasional yang telah mengudara di situ
(MetroTV,
tvOne, antv, Net, BeritaSatu, KompasTV, TransTV, Trans|7, SCTV, Indosiar, RajawaliTV,
Prambors, PopularTV, Saluran Film Indonesia, SportOne
dll –kalau MNC
grup juga sudah berada disitu, lengkap sudah channel Palapa-Telkom di
Chinasat11),
dan saluran lain masih dalam tahap Coming
Soon.
Ambil
misal SportOne,
banyak orang menunggu stasiun televisi khusus olahraga pertama di
Indonesia itu mengudara via MUX Viva bersama antv
dan tvOne
(karena memang satu grup), tapi justru kini ia telah mengudara secara
nasional lewat Chinasat11.
Bagaimana, apa masih terlalu berharap pada kanal digital terrestrial?
Memang
STB (Set
Top Box)
alias reciever
untuk satelit harganya malah lebih murah dari DVB-T2, tetapi kan
harus ganti antena UHF menjadi antena parabola. Come
on,
Anda bisa pakai antena pay
tv
jenis Ku
band
yang nganggur di atas itu yang sudah lama tak berfungsi karena Anda
telah berhenti melanggani sebuah pay
tv
tertentu. Atau, kalau tidak ada, carilah ke pengepul barang
rongsokan, niscaya –kalau Anda beruntung, Anda bisa mendapatkannya
dengan harga yang sama sekali tak akan menguras isi kantong.
Lalu
kalau Anda punya waktu,
tracking-lah
ke posisi 98.0ยบ
E, masukkan frekuensi 12500 V 43200, dapat deh
konten-konten yang saya sebut di atas. Atau, kalau belum-belum sudah
merasa ribet dan tak punya waktu juga skill,
panggillah teknisi untuk keperluan itu. Itu kalau Anda tak punya
waktu tetapi punya uang. Hehe...
Kemudian,
kalau sudah kita dapatkan konten siaran yang buanyak sekali di
Chinasat11
itu, mari bersama berujar, “Selamat tinggal tv digital
terrestrial...” *****
NB: artikel ini pertama kali saya publikasikan di www.ediwinarno.blogspot.com
Minggu, 14 Februari 2016
Modifikasi Scalar Ring untuk 4 LNB
![]() |
| SETELAH, sama-sama dipotong, tinggal menggabungkannya agar dapat memasang 4 LNB (Palapa-D, Telkom-1, Asiasat7 dan Asiasat5) |
![]() |
| Ini dia sebelum menjadi bentuk seperti gambar diatas. Dipotong sesuai perhitungan diameter LNB. |
![]() |
| UNTUK mengikat dalam rangkaian yang kuat, bahan tambahan hanyalah sekrup/baut. Sisa potongan LNB bisa dimanfaatkan sebagai pengikat. |
Langganan:
Postingan (Atom)









