Jumat, 05 Maret 2021

Adu STB : PF-209 vs Polytron PDV-600T2

KEMARIN saya beli set top box lagi. Dari merk terkenal, Polytron. Type PDV 600T2. Saya sudah punya set top box, sebenarnya. Yang saya beli sudah lama sekali. Jauh sebelum saya banting setir mencari jalur langit, tracking tv satelit.

Gara-garanya, waktu sekitar tujuh tahun yang lalu itu, geliat migrasi tv analog ke digital lelet sekali. Saya dikompori teman agar dolanan jalur langit saja. Dan saya turuti. 

Sekarang geliat migrasi analog ke digital sudah ada kepastian. November 2022. Istilahnya ASO alias Analog Switch OffSaat mana semua siaran televisi di Indonesia harus sudah berhenti bersiaran analog. Harus beralih ke kanal digital. Sebuah deadline yang disambut suka cita teman-teman pemerhati siaran televisi. Juga oleh pemirsa yang ingin gambar di layar tv menjadi clink, bening.

Terlebih bagi yang telah punya pesawat tv yang sudah support DVB-T2. Yang selama ini terpaksa cuma untuk menangkap siaran analog. 

Hal lainnya lagi adalah mulai ramai kembali peredaran set top box. Ini untuk golongan kaum seperti saya; kaum yang pesawat tivinya masih analog. Agar bisa menangkap siaran digital tidak bisa tidak, kudu pakai alat yang namanya set top box itu.

Baiklah, di bawah ini saya akan tampilkan foto perbandingan penangkapan antara dua set top box milik saya. (Dalam membuat perbandingan ini, yang berbeda hanya set top box-nya saya. Sedangkan pesawat tivi dan antenanya tetap sama.)

Nah, antara set top box PF-209 dan Polytron PDV 600T2, sakti mana dalam menangkap sinyal tivi digital terrestrial?

MUX Viva

MUX Media Grup

MUX Trans

MUX Grup Emtek.

MUX TVRI

Itulah penampakannya. Sakti mana? Beda tipis sepertinya. Pada PF-209 sinyal MUX Emtek terdetek, sedangkan pada Polytron tiada penampakan batang sinyal sama sekali. Walau demikian, menggunakan PF-209, saat di-scan tetap zonk pada pesawat tv saya.

Jadi, apa set top box andalan Anda? ****


Rabu, 10 Februari 2021

MUX MNC Grup On Air

SUATU pagi, ada pesan masuk di akun Facebook saya. Laiknya, kabar yang disampaikan saat pagi-pagi buta begitu berkategori genting. Paling tidak, itu hal penting. Dan sungguh. Simak kalimatnya: "Coba cek MUX 41. MNC on air".

Benar saja. Seperti kena hipnotis, di pagi itu, belum juga cuci muka, saya langsung menghidupkan STB. Yang saya beli sekian tahun yang lalu. Jauh sebelum saya kemudian banting setir dolanan wajan, tracking jalur langit. Ya, gara-gara siaran tv digital terrestrial lajunya seperti siput. Nggremet.

Tapi kini sepertinya telah ada titik terang. Payung hukum telah ada. Batas akhir ASO juga sudah ditentukan. Kabar baik? Tentu.

Maka, saat tahu walau MUX Emtek di Surabaya ini telah on tapi saya malah dibikin o'on gara-gara saat saya scan sama sekali gak nyantol, kabar Mux MNC yang sudah mengudara tentu layak disambut dengan riang gembira. Baiklah, jujur saya bukan penggemar sinetron Ikatan Cinta walau ada yang ngawur bilang saat muda dulu wajah saya mirip Aldebaran. (Tolong tahan, kalau mau huek byor jangan di depan saya😀)

Hasil saat saya pantau layar, benar saja. Sinyal MUX MNC mantap. Ada RCTI, MNCTV dan GlobalTV. Sementara INews gak ikut. Entah kenapa.


Dengan begitu, praktis semua MUX di Surabaya telah mengudara. Channel 23 (antv, tvOne), channel 25 (MetroTV, BN-tv, Magna Channel, BBS), channel 27 (TransTV, Trans|7, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, KompasTV), channel 29 (sinyal preeet...), channel 35 (TVRI Nasional, TVRI Jatim, TVRI SportHD, TVRI3) dan channel 41 (ohya, on air cuma beberapa jam. Lalu zonk entah sampai kapan. Semoga tidak sampai Anggun jadi duta shampoo lain). ****


Sabtu, 23 Januari 2021

Antena UHF Paramount Gold


SEJAK
diketok palu untuk batas akhir umur siaran tv analog pada 22 November 2022, sepertinya geliat migrasi siaran televisi dari analog ke digital kembali terasa. Di beberapa zona, ambil sebagai contoh MUX MNC grup langsung tancap gas, walau di area lain masih harus besabar dulu. Menunggu pengadaan perangkat dulu. Termasuk menunggu proses lelang MUX di beberapa propinsi.

Saya mengikuti perkembangan di zona lain via sosmed saja. Sedang di area Surabaya ini, seminggu yang lalu ada kejutan dari MUX Viva yang tiada hujan-tiada angin tiba-tiba nongol. Walau, kemudian langsung clink: menghilang lagi. Kok saya jadi ingat jailangkung ya. Hehe...

Baiklah, mungkin Viva sedang memanasi perangkat saja. Baru uji coba. Walau sebenarnya, saya inginnya MUX Viva langsung tancap gas, menyalip sinyal MUX Emtek yang walau sudah sebulan lebih on air, tapi sinyalnya masih pelit (pakai banget).

Karea geregetan bercampur penasaran dengan sinyal MUX Emtek (Ch. 29/538 MHz), saya belain sampai ganti antena. Saya berprasangka, jangan-jangan antena Titis TS-1000 milik saya sudah kurang titis lagi dalam menangkap sinyal digital. Lalu, antena apa yang lebih sakti?

Nah, tempo hari saya ada keperluan urusan kerjaan ke Pasar Genteng, Surabaya. Anda tahu, Pasar Genteng adalah gudangnya peralatan, wabil khusus untuk perangkat antena parabola. Di sebuah toko, saya lihat ada terpajang antena UHF merk Paramount. Produksi Gapura Agung. Produsen antena parabola yang lumayan kondang. Antena parabola yang saya pasang di rumah saya juga keluaran Gapura Agung. Merknya juga Paramount.

Menilik rekam jejak penangkapan sinyal antena parabola saya cap Paramount yang jos-gandos, saya kepincut untuk membeli antena UHF merk yang sama. 

Seperangkat antena UHF merk Paramount Gold itu saya pinang dengan mahar 125 ribu. Mahal? Relatiflah.

Secara bentuk, antena ini praktis. Warnanya juga anti-mainstream; cokelat tua. Ukuran: panjang 85 cm, lebar sirip sekitar 15 cm, lebar reflektor di bagian belakang sekitar 30cm. Yang menarik adalah, telah tersedia konektor; male dan female. Dengan diameter kabel yang sesuai ukuran RG6. 

Setelah saya rakit, si Paramount Gold ini saya pasang. Dengan ketinggian sejajar dengan antena lama, si Titis TS-1000. Kalau diukur secara meter, ya sekira 8-9 meteranlah. Pokoknya di atas atap lantai dua rumah saya.

Bagaimana penangkapan sinyalnya?

Untuk analog sepertinya lumayanlah. Beberapa kanal analog yang tadinya kurang jernih, jadi makin bening. Untuk sinyal digital bagaimana?

Saat saya cek sinyal kanal digital, mendapati sinyal MUX Media Grup jos, sinyal MUX TVRI joss, sinyal MUX Trans juga josss, sinyal MUX Emtek... tetap ndledek, lembek. Tak jauh beda dengan saat saya scan pakai antena Titis TS-1000.****

Untuk review versi audio visual, silakan klik: https://youtu.be/AYq9uX9BssU



Jumat, 11 Desember 2020

Kompas Tancap Gas

Hasil tangkapan layar
sebuah postingan teman
di grup pemerhati siaran
tv digital

SEHARIAN
ini, banyak sekali teman pemerhati siaran tv digital terrestrial mengabarkan siaran KompasTV telah merambah kanal digital terrestrial di sejumlah zona. Tak terkecuali di zona 7 Jawa Timur. Sepertinya KompasTV sedang tancap gas. Betul memang, ASO (Analog Switch Off) alias 'suntik mati' siaran tv analog masih dua tahun lagi. Masih lama? Ah tidak juga. Dua tahun itu tidak lama. Lebih-lebih bagi yang tidak gerak cepat.

Tidak seperti siaran Grup Emtek (SCTV, Indosiar, O Channel) area Surabaya (kanal 28/538MHz) yang sinyalnya di kawasan Surabaya saja sejauh ini masih pelit, daya pancar KompasTV langsung full. Ya, karena MUX Trans Grup --tempat dimana konten siaran KompasTV dipancarkan--- sinyalnya memang mantul, mantap betul.

Pantauan kemunculan
KompasTV di MUX Trans
di Jember.

Sementara ini, geliat pemancar Viva grup (antv dan tvOne) pada slot kanal 23, atau si MNC Grup di kanal 41 di area Surabaya, belum terendus. Mudah-mudah mereka sedang bekerja dalam diam. Tahu-tahu nanti langsung jos! Tahu-tahu memancar dengan sangar dan bukan sekadar tahu-tahu bulat digoreng di mobil lima ratusan.... 😊

Tangkapan sinyal KompasTV
di area Pasuruan.

Era tv digital adalah keniscayaan teknologi yang tak mungkin dihindari kecuali kita ingin berlari mundur jauh ke belakang. Era itu sudah di depan mata. Walau, sepertinya, belum semua penikmat tv analog mengetahuinya. Maka, tugas kita-kitalah (tugas?!) untuk mengabarkan kepada yang belum tahu itu. Bahwa, pada tanggal 2 November 2022 nanti semua siaran tv analog yang selama ini mengudara di Indonesia akan (di)mati(kan). Mau tidak mau orang harus menikmati tv digital. Yang gambarnya bening. Yang suaranya jernih. Yang untuk menikmatinya hanya butuh perangkat tambahan bernama set top box (STB).

Berbayar? Tidak. Pakai antena parabola? Juga tidak. 

Itu pertanyaan umum bagi mereka yang awam. Nah, itulah yang saya bilang menjadi 'tugas kita' untuk membantu menyosialisasikan program migrasi analog ke digital ini. Tak perlu dalam cakupan jauh dulu, cukup diawali kepada tetangga kiri-kanan rumah kita saja.

Kita bisa paparkan keunggulan siaran tv digital. Sekaligus bukan tidak mungkin kita bisa jualan set top box kepada orang-orang di lingkungan sekitar. Bagaimana, bisa menjadi peluang kan?****


Minggu, 22 November 2020

Mengintip SCTV, TVRI Zonk

  SAYA tidak tahu bagaimana hawa di rumah Anda saat ini. Tapi di Surabaya, masih sumuk. Mungkin sesumuk suhu politik jelang pemilihan Wali Kota. 

UpsGak usahlah kita ngomongin politik. Yang pelik. Yang kadang antar tetangga, karena beda pilihan, bisa saling mendelik. Kita bicara yang ringan-ringan saja. Tentang televisi digital terrestrial. Yang bikin geregetan. Bagi yang geregetan sih. 😊

Baiklah. Kita bicara tentang SCTV dkk. Yang belum lama ini on air di kanal digital. Di kota kelahirannya. Eh, kenapa ya untuk Surabaya, si Surya Citra ini malah mengudara belakangan. Ataukah sebagai kacang sudah agak lupa pada kulitnya?

Ups, maap. Tak baik berburuk sangka. Pastilah pihak Emtek punya strategi sendiri. Punya jadwal tersendiri. Untuk menghidupkan saluran digitalnya. 

Sinyal MUX Metro,
sedang-sedang saja.


Bermain di kanal 29 digital (538 MHz), si SCTV menggendong si Indosiar dan O Channel. Secara power, sepertinya masih kecil pakai banget. Sehingga daya jangkaunya masih tak seberapa. Di daerah tempat tinggal saya di kawasan Rungkut, signal yang tertangkap hanya kenduk-kenduk semata. Tak lebih dari 17%. Itu pun timbul tenggelam. Menjadikan siaran tak muncul di layar kaca saya. Bersyukurlah kalau Anda bisa menangkap siarannya. Kabarnya, malah ada yang bisa menangkap di daerah Pasuruan sana.

Sinyal MUX Emtek,
masih pelit.

Mengudara dari tower Indosiar di Balongsari (bukan di menara SCTV Darmo Permai), secara jarak tak jauh berbeda dengan pemancar digital lain yang telah on air. Kalau dibandingkan dengan MUX Trans (ch. 27) kalah jauh. Signal milik Trans kenceng sekali. Pada urutan berikutnya ada MUX Metro (ch. 25) dan peringkat teratas secara kekuatan sinyal (biasanya) diraih MUX TVRI (ch. 35).

Sinyal TVRI,
sedang zonk.

Kok biasanya?

Iya, karena sesaat sebelum membuat tulisan ini, ketika saya intip, sinyal dari MUX TVRI malah sedang zonk. Ada apa gerangan?

Baiklah, saya keluar sebentar. Menatap langit. Bertanya kepada mendung yang tipis belaka. Kapan hujan turun, agar hawa Surabaya tidak lagi sesumuk ini. ****

Kamis, 29 Oktober 2020

Ajwa, TV Religi dari Emtek

OMNIBUS LAW yang bikin ramai itu, konon (saya bilang konon karena saya gak paham apa saja isinya) salah satu klasternya adalah tentang migrasi siaran tv dari analog ke digital. Betul memang, itu bukan isu baru. Tapi, sekali lagi -konon-, di Omnibus Law hal tersebut makin diperjelas. Termasuk jadwal 'suntik mati' siaran tv analog alias ASO (Analog Switch Off).

Penampakan AjwaTV
via Satelit Telkom-4

Hari ini si Emtek Grup, salah satu grup tv besar di Indonesia, meluncurkan saluran baru. AjwaTV, begitu namanya. Peluncurannya ditayang langsung di Indosiar. Secara terrestrial, juga via jalur langit (satelit). Untuk AjwaTV, ia saya tonton via satelit Telkom-4. Kenapa?

Karena di jalur terrestrial belum ada, baik di jalur analog maupun kanal digital. Mungkin di area Surabaya ini menunggu bulan depan. Saat mana MUX Emtek kabarnya akan on air. Ditunggu saja.

Dan semoga yang ditunggu itu benar-benar datang, benar-benar nongol. Sehingga makin ramai saluran tv digital yang bisa dinikmati. 

Belum lama ini MUX Metro memuat konten baru; BNTV. Setelah sebelumnya meluncurkan Magna Channel.

Channel digital yang sudah
on air di Surabaya.

Kalau jadi si Emtek MUX mengudara bulan depan di Surabaya, siaran di kanal digital yang ada sekarang berjumlah 14 channel (1-2 blank), akan bertambah 4 saluran lagi (SCTV, Indosiar, O Channel dan AjwaTV). 

Fenomena grup Emtek melahirkan saluran religi bernama AjwaTV ini menarik untuk dikulik. Di saat grup tv lain membangun saluran tv umum (pop atau news), kenapa Emtek menggarap segmen Islami? Segmen yang selama ini banyak digarap tv-tv dakwah, yang secara core bukan 'pemain betulan' di ladang pertelevisian. Banyak sekali jumlahnya. Yang sebagian besar mengudara di jalur satelit. Yang untuk operasional siarannya saja ada yang masih tidak sungkan menawarkan kepada pemirsa untuk  urunan dalam bentuk infaq. 

AjwaTV lahir dari rahim grup Emtek (salah satu pemain utama bisnis pertelevisian di Indonesia) apa karena Indonesia mayoritas muslim, yang secara kacamata bisnis televisi cukup menggiurkan. Iya, jujur saya tidak bisa tidak menduga si AjwaTV ini selain mengusung cermin keindahan Islam sebagaimana tagline-nya, ia juga berorientasi bisnis. Sebagaimana kakak-kakaknya; SCTV, Indosiar juga si 'pedagang panci' O Channel.

Tak apalah. Saya hanya pemirsa. Yang mendapati pilihan di layar kaca makin beragam sudahlah senang. Yang berharap saluran tv kita telah naik kelas. Menjadi digital. Semua.

Di Surabaya ini, kanal digital yang sudah bersiaran adalah MUX Metro di kanal 25, Grup Trans di saluran 27, dan MUX TVRI di kanal 35. Kalau sesuai info dari teman saya bahwa MUX Emtek akan mengudara bulan depan, praktis tinggal menunggu beroperasinya MUX milik grup Viva dan.... grup MNC !

Kapan ya semua itu terlaksana? Semoga tidak terlalu lama lagi. Jangan sampai Anggun keburu ganti menjadi duta shampoo lain. ****

Jumat, 21 Agustus 2020

Magna Channel di Telkom-4

SEJAK tanggal 16 Juli kemarin, MediaGrup meluncurkan stasiun televisi biasa (baca: bukan tivi berita) dan diklaim sebagai televisi nasional pertama yang bersiaran secara nasional di kanal digital. Lebih lengkapnya, di beberapa kota besar yang MetroTV (sebagai induk) telah punya pemancar digital terrestrial.

 
Di Surabaya ini, sayangnya, sinyal MUX MetroTV kurang kuat ditangkap di STB saya. Pertama, mungkin karena antena saya yang kurang pas mengarah ke lokasi pemancar. Kedua, mungkin power pemancar yang memang belum maksimal. Maaf, ini dugaan saya saja lho ya. 

Yang pasti, remote control STB saya sudah lama raib. Menjadikan saya malas tombal-tombol set top box untuk mencari kanal baru di jalur digital itu. Makanya sampai saat ini saya belum bisa ngintip si Magna via kanal digital terrestrial. Sampai barusan saya iseng buka-buka Lyngsat. Tujuannya sih mencari tahu kenapa si CNN dan CNBC kok hilang dari layar TV saya. Padahal sinyal full.

Saat mencari info si CNN via Lyngsat itu, eh saya dapati ada Magna Channel di Telkom-4. Tranpondernya: 4156 H 3777. Langsung saya masukkan TP itu. Langsung clink. Sinyal terbilang kuat. Saya mendapatkan 77%. Lumayanlah. Itung-itung menambah koleksi siaran tivi. Tentang apakah si Magna itu akan menambah makna hidup (hiburan) saya? Entahlah. *****