Selasa, 31 Mei 2022

Antena TV Terbaik

ANTENA Titis TS-1000. Itu antena TV pertama yang saya dapatkan secara gratis dari seorang teman blogger. Dikirim dari mBantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih istimewa lagi, antena itu saya terima secara bersih, tanpa biaya. Bahkan ongkir pun dibayar oleh pengirim. Sebagai sesama penikmat siaran tv digital, kami serasa akrab walau tak sekalipun pernah kopdar. Waktu itu belum seperti sekarang. Gaung migrasi alias ASO (Analog Switch Off) masih sayup-sayup. Timbul-tenggelam. Pihak LPS kesannya juga masih ogah-ogahan. Dengan bermacam alasan. Pihak yang rajin menayangkan iklan tentang migrasi televisi digital, seingat saya, waktu itu cuma TVRI.

Kini, sekian belas tahun kemudian, sudah berbeda keadaannya. Televisi swasta sudah pada rada injak gas. Simulcast dimana-mana. Dengan si Modi, maskot ASO ditampilkan di sudut layar kaca. Sekalipun begitu, siaran analog LPS itu juga tetap bening, dimana-mana. Sehingga, "Siaran analog masih bisa dinikmati kok, nanti saja kalau sudah tidak ada, baru aku beli STB", begitu kata teman saya yang tinggal di Kediri.

Intinya: menunggu. Saat siaran tv analog benar-benar disuntik mati. Yang jadwalnya sudah jelas itu. Walau, disini, apa-apa yang sudah jelas pun bisa saja dikoreksi. Termasuk tentang program migrasi ini. (baca juga: ASO Diundur (LAGI!)

Kembali ke soal antena. Rupanya si Titis TS-1000 itu bukan antena terakhir yang saya dapatkan secara gratisan. Ada merk PX yang juga menambah koleksi antena saya. Walau si produsen PX mengajukan syarat, saya harus bikin konten tentangnya. Semacam barter. Ya, endorse-lah.

Tentu saja saya juga beli antena. Ada merk Paramount Gold, ada juga Venus Cabai Rawit. Termasuk si 'eplek-eplek' setipis kertas Taffware-D139

Dan tempo hari saya mendapat kiriman antena lagi. Ini antena hand made, dari sahabat Youtuber Madiun. Tanpa merk. Tetapi, melihat bentuknya, antena itu amat pantas disebut sebagai antena layang-layang.

Yang buatan pabrikan tentu tampak lebih rapi. Lalu ada semacam rangkaian elektronika entah apa namanya tersemat di dalamnya. Maaf, saya awam tentang hal itu. Sementara, si layang-layang ini tampil polos. Terbuat dari pipa alumunium yang dibentuk seperti layangan, dan untuk pemasangan kabel coaxial hanya dililitkan di bagian ekor secara menyilang. Ujung kabel serabut di satu sisi, ujung kabel tunggal di sisi lainnya. Sudah. Gitu aja. Sama sekali tak repot.

Lalu antena yang mana yang punya performa terbaik dalam menangkap sinyal?

"Intinya antena televisi itu yang penting dapat menangkap sinyal secara maksimal, yang membuat siaran tivi bisa dinikmati secara bening. Tak ada apa itu antena digital. Itu hanya istilah dagang saja, agar bisa dijual mahal", seorang teman berargumen. Yang kedengarannya itu masuk akal bagi saya yang awam ini.

Tentu pembuat antena, entah itu industri rumahan maupun pabrikan besar, masing-masing punya rumus agar si antena dapat menangkap sinyal secara maksimal. Namun, "Bikin konten itu yang kreatif dikit napa? Misalnya bikin antena berbahan alumunium foil bekas bungkus rokok kek...", seorang teman berkirim wasap kepada saya. Rupanya ia barusan nonton konten yang saya unggah di Youtube sekian jam sebelumnya.

Asem tenan! Sudah tahu saya ini nul-puthul elektronika kok dipanasi begitu. Baiklah. Kalau dia pernah bikin antena berbahan dua kaleng bekas kemasan minuman bersoda, dengan hanya menyambung kabel koaksial di dua kaleng tersebut, sepertinya saya juga bisa. Seperti halnya dua seng bekas plat nomor bisa dibikin antena sebagaimana pernah saya lihat di Youtube


Bismillah. Saya buat. Bukan dari kaleng atau plat nopol bekas, tapi dari bahan yang ada di tool box saya. Kebetulan ada potongan seng kecil, juga ada gergaji besi yang sudah tugel, tinggal separo. Saya kasih kabel antena. Jadi deh. Hasilnya? Bisa juga tuh menangkap sinyal digital!

Dengan demikian, kalau ditanya: antena yang terbaik adalah; antena yang dapat menangkap sinyal secara maksimal. Tak peduli itu buatan pabrik dengan merk terkenal, atau hanya antena abal-abal. 

Bagaimana pendapat Anda?

Salam tv digital dari Surabaya!****





Rabu, 18 Mei 2022

STB Recommended

TADI pagi saya ditelepon teman sekolah dulu. Yang kini mukim di Jakarta. Yang sudah sekian puluh tahun tak pernah berjumpa. Wasap-lah yang menjadikan kami saling sering mengintip. Obrolan teman. Di grup wasap alumni sekolah kami. Angkatan dahulu kala.

Selain mengintip obrolan teman lain, rupanya dia juga mengintip sosmed saya. Mungkin blog ini, atau kanal Youtube saya. Dan kata sebuah ungkapan, bicaralah tentang satu topik tertentu, kapan saja, niscaya orang akan mengenalmu sebagai orang yang tak jauh dari yang selalu kau obrolkan itu. Dengan kata lain, itulah yang dinamakan personal branding.

Maka ketika si teman saya itu minta wangsit kepada saya tentang STB apa yang menurut saya patut direkomendasikan untuk dibelinya, itu semacam efek dari personal branding tersebut. Bahwa dia mengenal saya sebagai yang sering saya bahas. Padahal, jujur saja, saya ini tak ahli dalam hal elektronika begitu. Baik software maupun hardware. Pokoknya saya ini nul-puthul

Benar memang, saya pernah mencoba memakai beberapa merk STB. Menurut saya, nyaris semuanya setali tiga uang. Mirip-mirip saja. Tampilan fisiknya, juga tampilan di layar saat STB dihidupkan. Sebagai yang gak paham, tentu saya menghindarkan diri untuk membandingkan antara satu STB dengan STB merk lainnya dari sisi dalemannya, chipset-nya, software-nya dan sejenisnya.

Sampai disini saya malah punya asumsi, jangan-jangan beberapa merk STB itu diproduksi oleh satu pabrik yang sama. Kecuali merk-merk ternama. Jangan-jangan STB-STB itu seperti saat dulu kita dibanjiri oleh motor buatan China. Ada Sanex, Jialing, Dayang dan banyak lagi merk yang lainnya. Kalau untuk bikin motor saja mereka bisa, untuk bikin STB tentu hal kecil dan tinggal pesan: mau dikasih merk apa. (Maaf, ini asumsi saya lho ya😊).

Kembali ke pertanyaan teman saya tadi, STB yang patut direkomendasikan tentu idealnya adalah yang secara spesifikasi sudah sesuai regulasi yang diterapkan di sini. Misal, sudah SNI. Sudah support EWS (Early Warning System). Perkara lalu STB itu bisa untuk Tiktok, Youtube dll saya pikir itu sebagai pemanis buatan saja. Karena, menurut saya, layar televisi laiknya dinilai sebagai sarana hiburan bersama. Bukan untuk dinikmati sendirian sebagaimana ponsel pintar. 

Jadi? Maaf, ini menurut saya lho ya --dan Anda tidak sependapat juga tak apa-- STB-T2 itu 'hanya' perangkat untuk agar kita bisa melihat siaran digital sementara pesawat tivi kita masih analog. Itu saja. Sehingga STB yang sesuai tentu yang tak jauh dari itu. Agar bisa untuk nonton tivi digital. Perkara merk, ada banyak dengan rentang harga yang tak terpaut jauh. Misalnya di pasaran banyak sekali dijual aneka merk mulai Matrix, Venus, Kaonsat, Evinix, Luby, Intra, Hinomaru, Welhome dll. dengan bermacam varian dan fiturnya. 

Contoh salah satu merk STB
yang ada di pasaran.

Namun saya perhatikan, justru merk ternama di jagad elektronika Indonesia macam Polytron, Akari atau Sharp yang belakangan ikutan memproduksi STB juga, pada produk STB-nya justru tak mengandung banyak fitur. Malah kesannya standard dan minimalis sekali. Ya itu tadi, asal bisa untuk nonton siaran tv digital terrestrial pakai pesawat yang masih analog. 

Secara after sales sarvice, tentu merk-merk yang saya sebut belakangan tadi lebih jelas dimana alamat  Service Center-nya. Namun, dengan harga baru yang di kisaran dua ratus ribuan, kalau layanan purna jual tempat dimana kita bisa memperbaikkan STB kalau terjadi kerusakan itu jauh letaknya, tentu perlu dipikir ulang. 

Walau tak semua tukang service TV menerima jasa perbaikan STB, bila beruntung kita bisa memperbaikkan STB kita yang rusak, yang tak jelas dimana Service Center-nya itu kepada mereka. Ongkosnya?

"Kalau setelah saya cek kerusakannya, lalu beli pengganti part yang bermasalah ditambah biaya jasa perbaikannya mendekati setengah harga kalau beli baru, biasanya saya sarankan untuk beli baru saja," demikian kata teman saya yang cukup expert di bidang perbaikan STB (baik S2 maupun T2).

Padahal, namanya juga barang elektronika, ibarat kata ya cuma mujur-mujuran saja. Ambil misal, saya beli STB merk Venus Cabai Rawit, sudah hampir dua tahun saban hari saya nyalakan sampai saat ini tetap sehat wal afiat. Sedangkan punya tetangga saya, dengan merk dan type yang sama dan waktu pembelian yang tak tepaut jauh, baru dua bulan pemakaian sudah tewas duluan.

Simpulan dan rekomendasi STB dari tulisan sepanjang ini adalah: belilah STB sesuai kebutuhan sekaligus sesuaikan dengan budged-nya. Perhatikan fiturnya, kalau itu penting, pertimbangkan. Kalau tak perlu fitur itu, pilih yang standard saja. Kalau sudah, berdoalah. Semoga awet STB-nya.***



Kamis, 12 Mei 2022

ASO Diundur (LAGI) !?

SEJAK kapan kita punya budaya tepat waktu?

Ah, janganlah begitu. Tetapi saya jadi ingat iklan pada baliho-baliho di jalan-jalan utama. Iklan itu, Anda tahu, adalah kalimat usil nan nylekit walau kadang --sambil nyengir-- kita mau tak mau mengiyakannya. Betul, iklan itu memang dari sebuah produk rokok. Namun pesan yang ditampilkan, bagi siapapun kadang sungguh menohok.

Misal, bunyinya begini: Alasan adalah Kunci Jawaban.

Saya tak hendak menantang debat siapapun. Namun, bangsa kita memang boleh kalah dari negara manapun untuk sepakbola atau bulutangkis, umpamanya. Namun untuk urusan mencari alasan, tunggu dulu. Mari kita lestarikan lagunya Dewi Lestari: 🎼🎡...malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya...🎢🎢

ASO ini pun demikian. Sudah sejak lama dicanangkan. Tahapan-tahapannya. Daerah ini ikut tahap pertama, daerah lain menyusul berikutnya. Rapi jali. Planning-nya. Pas hari H?

Tanggal 30 April 2022 kemarin yang secara jadwal ada sekian ratus daerah yang mestinya tv analognya dimatikan permanen, ternyata realisasinya tidak demikian. Sebagian besar daerah itu tv analognya masih mengudara. Sampai saat ini belum (di)mati(kan). ASO diundur (lagi untuk ke sekian kali)?

Bukan diundur, tetap sesuai road map. Tetapi daerah yang ASO-nya ditunda itu, adalah daerah yang secara kasuistis dinilai kurang siap. Baik insfrastrukturnya, maupun ketersediaan STB-nya. Termasuk komitmen pihat LPS dalam memberi STB gratis bagi masyarakat di daerah tersebut. Dan bagi yang sudah siap, tetap jalan. Analog dimatikan.

Baca pelan-pelan. Itu penjelasan, gaess. Janganlah semua dinilai sebagai suatu alasan. Walau tidak disebutkan, ada lho masyarakat yang sudah secara suka rela beli STB sendiri tanpa menunggu pembagian gratis. 

"Lumayan, Mas. Sehari rata-rata laku 50 unit," kata teman saya di Ngawi yang di toko elektroniknya juga berjualan STB.

Dengan kata lain, ada masyarakat yang sudah siap ASO mandiri, demi bisa mononton siaran tivi bebas semut. 

Hal lainnya adalah, kalau sampai sekarang masih ada yang kurang ngeh apa itu ASO, dengan demikian, maka: apakah sosialisasinya yang kurang berhasil, ataukah orangnya saja yang kudet. Misal, ada lho yang menganggap ASO ini menyangkut juga siaran TV kabel. Dari kelas ecek-ecek yang banyak sekali beroperasi di daerah-daerah dengan kategori siaran tivi tak bisa dinikmati pakai antena UHF, sampai penyedia layanan tivi kabel sekelas LinkNet. Padahal, tidak begitu, Ferguso. Beda. Tidak sama alias mboten sami!


Benar memang, LinkNet dan seabreg penyedia jasa tivi kabel di daerah-daerah, di era digital ini masih ada juga yang 'jualan' siaran analog. Nah, apakah siaran analognya itu juga dimaksud dalam ASO yang sedang kita bicarakan? Sekali lagi: ya tidak! Beda jalur.

ASO yang digagas pemerintah adalah yang pakai frekuensi yang dipancarkan via stasiun transmisi. Yang pakai tower pemancar itu. Yang harus ditata. Agar tidak boros bandwidth. Yang mana spektrum frekuensi itu nanti, setelah semua tv tertata bersiaran di kanal digital, akan dialokasikan untuk internet.  Sementara siaran tivi kabel disalurkan melalui kabel, bukan dipancarkan melalui menara pemancar yang frekuensinya mutlak diatur ketat oleh pemerintah.

Nah, jelas sudah. Walau nanti semua kanal televisi di Indonesia sudah migrasi ke jalur digital, kalau pihak tv kabel (macam LinkNet, misalnya) masih 'jualan siaran analog' ya gak ngaruh. Sepanjang ada yang berlangganan. Kalau lalu LinkNet menawarkan siaran digital kepada pelanggannya, sekali lagi, itu tidak ada hubungannya dengan program ASO / Analog Switch Off. Itu hanya murni ilmu jualan. Bahwa, kalau mau konten yang digital, harga berlangganannya juga mesti naik. Begitu. Sesimple itu.

Lagian, program migrasi dari analog ke digital yang dijalankan pemerintah itu adalah untuk mengatur dan menata frekuensi siaran televisi baik LPP (Lembaga Penyiaran Publik --TVRI) maupun LPS (Lembaga Penyiaran Swasta) yang jumlahnya sekarang sudah 700 lebih. Ingat, itu semua adalah siaran FTA alias Free to  Air. Yang gratis, tis, tis. Bukan konten siaran milik pay tv macam HBO, StarSport, Fox, National Geographic, Waku-waku Japan dan sejenisnya.

Bagaimana?  ****

Jumat, 29 Oktober 2021

PX HDA-2000B, Antena TV Indor-Outdor



SECARA
kepastian, walau karena pandemi, yang semula dijadwal dimulai bulan Agustus tahun ini diundur start-nya menjadi April tahun 2022, namun deadline-nya tetap. Analog Switch Off akan dilakukan pada 22 November 2022. Berarti persis setahun lagi bila dihitung dari saat saya membuat tulisan ini.

Artinya apa?

Setelah bertahun-tahun serasa di-PHP, semoga geliat dan progress migrasi siaran tivi dari analog ke digital benar-benar akan terjadi. Dan sepertinya memang akan segera terjadi. Sehingga kita bisa segera berdada-dada mengucap selamat tinggal siaran tivi dengan gambar kepyur bersemut. Menuju era tivi bergambar glowing, clink dan bening! Kalau menurut si Modi yang muncul di sudut layar kaca: Bersih, jernih, canggih!

Menyongsong era itu, para pelaku usaha telah menyambutnya dengan -bisa diintip dari aneka kebutuhan yang terkait dengan itu- mulai marak di pasaran. Dari mulai produsen pesawat tivi yang kabarnya akan segera berhenti memproduksi pesawat tivi analog, dan segera total memproduksi tivi digital, bahkan mulai dari ukuran inch yang biasa dijangkau kelas menengah, aneka merk STB yang membanjiri pasaran membuat harga makin membumi, termasuk tersedianya aneka merk antena yang mendaku sebagai antena khusus digital.

Minggu, 30 Mei 2021

MaduTV Siaran Digital di Surabaya

SEPERTI yang saya tulis sebelumnya; bahwa saya sedang menunggu. Setelah Jtv dan SBO/Jawa Pos TV mengudara di kanal digital (via MUX TVRI, ch. 35), stasiun televisi mana lagi yang akan menyusul mengudara di Surabaya?

Ya, tentu sebagian akan langsung menjawab: RTV dan NET. (Karena semua televisi nasional lainnya telah bersiaran secara simulcast di Surabaya. Artinya, di Surabaya semua MUX telah mengudara. Walau, MUX si Emtek grup, sejauh ini, sinyalnya masih pelit -- pakai banget). Namun yang saya maksud adalah tv lokal Surabaya. Bukankah dengan telah mengudaranya Jtv dan Jawa Pos TV (setelah lebih dulu BBSTV sudah mengudara di MUX Media grup) kini tv lokal Surabaya tinggal TV9, ArekTV dan SurabayaTV yang belum nongol di jalur digital

Baiklah, dengan kenyataan barangkali bahkan diantara kita sudah ada yang lupa kalau di Surabaya ada yang namanya ArekTV dan SurabayaTV, tentu saya berharap TV9 segera bersiaran di kanal digital. Ikut MUX manapun silakan.

TV9, sebagai saluran tv ia lebih dari sekedar bintang lima (karena berbintang sembilan😊), tentu akan makin cling di kanal digital. Digital terrestrial yang saya maksud. Karena kalau digital jalur langit, kita sudah pada tahu, si televisi yang punya slogan Santun Menyejukkan ini sudah lama mengudara di berbagai satelit.

Channel TV digital Surabaya.

Hari ini, hari terakhir bulan Mei 2021, ternyata oh ternyata, bukan si TV9 yang nongol di kanal digital. Bukan ArekTV, bukan pula SurabayaTV. Tetapi... eng ing eng: MaduTV Nusantara. Stasiun televisi yang berbasis di Tulungagung. Dengan menyandang nama Nusantara di belakang namanya, saya menebak: saluran televisi ini tentu juga 'berhaluan bintang sembilan' seperti halnya TV9

Acara seni wayang kulit dan atau program dakwahnya, yang setali tiga uang dengan BBSTV, menjadikan makin ada beragam pilihan tontonan dan tuntunan. Dengan basis kulonan, bahasa Jawa yang dipakai MaduTV tentu lebih luwes di acara Campursari dan sejenisnya. Dibanding bahasa yang dipakai saluran televisi lokal sebelah yang kadang mengandung hoho-hihe, penthil muter, pistul gobyok, empal brewok dan sejenisnya, yang bagi sebagian kuping akan terdengar saru dan membuat risih saat mendengarnya.



Tanggal batas akhir itu, 2 November 2022 (saat semua siaran televisi analog harus turun dari udara alias ASO) masih 'relatif lama'. Selama rentang waktu itu, saya masih akan terus berharap dan bertanya; NET dan RTV akan mengudara di MUX mana. Pun si ArekTV dan SurabayaTV. Ataukah malah ada pendatang baru semacam MaduTV yang bahkan tidak mengudara (jalur analog) di Surabaya tiba-tiba mak-bedunduk ada. BaliTV, misalnya. Lalu bagaimana dengan TV9?

Entahlah. Namun, apapun ceritanya, saya yakin, semua akan digital terrestrial pada waktunya. ****



Senin, 26 April 2021

Setelah Semua Mux Mengudara Lalu Apa?

MINGGU kemarin saya iseng scan siaran tv digital di dekat towernya. Iya, di Surabaya ini, semua pemancar tv ada di bagian barat. Kecuali TVRI. Iya kalau dari Surabaya timur, pemancar TVRI tetap di barat. Tetapi tidak barat-barat amat dibanding lainnya. Termasuk tower RCTI yang dulu menjulang di kawasan Kertajaya Indah, kini kokoh berada di Sambisari, Surabaya Barat.

Saat saya scan kemarin, saya memboyong set top box Kaonsat. Dengan antena mungil bawaan tv portable mainan anak saya dulu.

Lihat Youtube saya,
klik disini! 

Dari lantai 23, tempat saya mencoba tracking, nyaris semua tower pemancar kelihatan. Kecuali yang terhalang gedung apartemen Puncak Bukit Golf yang bangunanya memang persis di barat tempat saya. Juga pemancar TVRI gak kelihatan, karena ia berada di timur.

Dari jarak, rata-rata tak sampai tujuh kilo meter dari pemancar, nyaris semua siaran digital tertangkap. Kecuali yang tidak tertangkap. πŸ˜€ 

Jadi begini, beberapa yang tidak tertangkap itu dikarenakan terhalang gedung, menjadikan saya secara serampangan berkesimpulan sinyal tv digital tidak dapat menembus halangan gedung. Tolong koreksi kalau salah. Hal kedua yang saya curigai sebagai penyebab tidak tertangkapnya sinyal adalah karena antena yang saya gunakan terbilang sangat mini. Kecil sekali, dan cuma saya taruh di atas pesawat televisi. Lain halnya kalau antena yang saya pakai lebih mumpuni, dengan dipasang di balkon atau top roof.

Tetapi begini; di apartemen, biasanya ada aturan bahwa kita tidak diperkenankan semaunya menaruh barang, termasuk antena, di bagian yang tampak dari luar. Sedangkan untuk menarik kabel antena untuk ditaruh di top toof, juga tak semudah itu, Fergusso.

Jadi?

Ya tak usahlah dibahas lebih jauh. Toh saya bukan penghuni apartemen. 😊

Baiklah, setelah Mux MNC grup mengudara, lengkap sudah semua mux on air di Surabaya. Lalu apa? Sedangkan realitanya, pemilik mux itu adalah para raksasa. Yang punya saluran televisi tidak cuma satu. Ambil rata-rata saja: masing-masing telah punya empat. Hitung saja. Berapa sudah yang mengudara di kanal digital.

Untuk yang berjaringan nasional, tinggal RTV dan NET. yang belum ada. Selebihnya adalah pemain lokal. Yang dua di antaranya telah mengudara. BBSTV ikut mux Media grup, Jawa Pos TV (SBO TV) ikut TVRI.

Ditunggu saja; bakal di mux mana JTV, TV9, ArekTV dan SurabayaTV akan mengudara? *****



Rabu, 21 April 2021

Akhirnya, Mux MNC On Air

KEMARIN siang, sebagaimana teman lain yang gandrung mengamati perkembangan siaran tv digital terrestrial, saya iseng scan. Alat tempur yang saya pakai ini terbilang tua. Set top box PF-209 ini saya beli tujuh tahun lalu. Saat itu saya belum bisa tracking jalur langit.

Nah, setelah menekan tombol pada remote control untuk melihat bar sinyal Mux grup Emtek (ch. 29) masih saja loncat-loncat dan tak pernah berhasil saya lock, saya pindah ke MUX 41. Milik MNC. Yang beberapa waktu lalu sempat nge-prank. On air sebentar, lalu zonk lagi. Kelakuan nakal itu tidak cuma sekali. Padahal sudah kadung disambut riang gembira, eh gak tahunya cuma memanasi alat belaka. Begitu kelakar teman-teman saya.

Akhirnya...
Semoga bukan nge-prank.

Saat saya panjer di kanal 41 kemarin itu, saya sambil mainan HP. Sambil lalu saya lihat bar sinyal di layar. Tetap seperti sebelumnya. Saya teruskan mainan HP. Begitulah, di bulan puasa begini yang berat itu bukan menahan lapar dan dahaga, tapi betapa berat menahan diri dari tidak dolanan HP, bersosmed-ria.😊

Saya lirik lagi bar sinyal MUX MNC. Lhadalah, kok ada penampakan. Langsung saya scan. Dapat empat channel. RCTI, MNCTV, GTV dan INews. Formasi lengkap, dengan kekuatan sinyal yang mantap.

(Di tanggal cantik kemarin itu, 21-4-21, Mux MNC grup selain di Surabaya, juga secara bersamaan on air di kota Medan, Banjarmasin dan Semarang. Siaran secara simulcast. Di jalur analog tetap bisa dinikmati, di kanal digital juga demikian. Sampai kemudian, di waktu yang telah ditentukan, 2 November 2022, semua siaran televisi yang di jalur analog akan di-off-kan).

Penampakan RCTI dan
bar sinyalnya.

Walau tetap hati-hati karena jangan-jangan MUX MNC grup ini sedang nge-prank lagi, saya potret dan kemudian saya posting penampakannya di grup pemerhati siaran tv digital terrestrial di Efbi. Saling-silang tanggapan bersautan. Gempita. Bagi penggemar Ikatan Cinta tentu saja ini kabar gembira. Bisa menimati tayangan sinetron kisah Aldebaran dan Andini dengan kualitas gambar clink, bening bubas semut.

Tetapi tentu tak sepenuhnya demikian adanya. Karena, tidak sedikit diantaranya adalah penggembira belaka, tapi bukan penggembira biasa. Maqom-nya sudah penggembira khusus. Yakni, senang ketika mendapati siaran di kanal digital makin bertambah, tetapi kalau di rumah, walau menghidupkan televisi, mata dan tangannya justru khusyuk dolanan HP. 😊 *****