Sabtu, 01 Oktober 2022

Antena Indor atau Outdor, Mana Lebih Baik?

MEMBACA postingan teman teknisi yang mumet karena mendapati customer yang ngotot tidak mau pakai antena outdor tetapi menuntut semua channel tv digital bisa tertangkap menggunakan antena indor, ada kasihan kepada teman teknisi tersebut.

Bisa jadi si empunya rumah kadung yakin antena indor yang telah dibelinya tersebut memang punya kemampuan menangkap sinyal secara maksimal, walau dipasang di dalam rumah. Bisa jadi keyakinan itu didapat dari penjual antena, lewat iklan misalnya. Atau lewat chat dengan penjual di olshop. Dibumbui video testimoni.

Padahal, daya tangkap antena dipengaruhi banyak faktor. Paling tidak ada ini: letak, arah, dan TKP. Antena indor, bisa menangkap sinyal secara maksimal bila lokasi pemasangan dekat dengan tower pemancar. (Silakan baca artikel saya sebelumnya). Kalau jauh, apalagi kehalang gedung jangkung, tunggu dulu. Antena indor akan kehilangan kesaktiannya. Saatnya antena outdor tampil. Itu pun ketinggiannya harus menyesuaikan. Agar sinyal bisa nyantol. 

Dari sudut estetika, antena indor memang secara design dibuat enak dipandang. Namun bukankah televisi itu yang ditonton adalah siarannya, bukan antenanya? ****

Senin, 05 September 2022

Antena Tipis, Sinyal Ketangkap Maksimal?

"MAS, saya kok tertarik akan beli antena tipis. Yang bisa dilekatkan di dinding, di atas tipi," seorang teman berkata kepada saya. Saya agak ragu, pernyatannya itu bertanya apa bagaimana ya?

"Tapi, apa benar kata iklan itu ya? Setipis itu apa iya bisa nangkap sinyal secara maksimal?"

Nah, yang terakhir itu tentu kalimat tanya. 

Rumah teman saya itu di daerah dekat Juanda sana. Secara jarak, ke stasiun pemancar tv di Surabaya ini lumayah jauh. Dan secara logika, saya paham kenapa ia mempunyai pertanyaan itu; antena setipis itu, semurah itu, bisakah menangkap sinyal dengan maksimal padahal jarak dengan pemancar sejauh itu.

Baiklah. Saya punya pengalaman. Pernah mencoba memakai antena yang ia maksud. Yang setipis kipas tukang sate itu. Secara bentuk sih memang simple. Termasuk sudah dapat kabel bawaan sepanjang 3 meter. Dengan kabel sepanjang itu, asumsinya memang si antena tipis itu cukup diletakkan tidak jauh dari pesawat tivi. Kecuali kalau disambung kabel, sepanjang tiang yang akan dipasang.

Namun, secara desain, sepertinya antena ini memang diperuntukkan dipasang pendek saja. Bukan untuk outdor tentunya.

Ya saya pasanglah begitu saja. Pakai kabel bawaan yang cuma tiga meter itu. Hasilnya, lumayan. Semua sinyal semua MUX bisa ketangkap maksimal. Sebab, saya mencoba pakai antena itu tak jauh dari menara pemancar. Ya sekitar 5 atau 6 kilometer dari pemancar. Sedangkan saya berada di lantai 21 gedung apartement. Tentu saja sinyal muncrat!

Padahal, saat saya pasang di rumah saya, berjarak sekira 15 kilometer dari pemancar, si sinyal tiada nampak batamg hidungnya. Jadi?

Ya, begitulah.****

Jumat, 26 Agustus 2022

ASO = Analog Sulit Off

PAS tanggal 30 April 2022 lalu, saya sudah bersiap melihat reaksi orang-orang ketika siaran tv analog dimatikan. Iya, tanggal 30 April 2022 itu dipilih sebagai tahap pertama pematian siaran tv analog alias ASO (Analog Switch Off). Ternyata oh ternyata, saya --juga beberapa teman 'aktivis' pro ASO-- yang malah kena malu. Sudah kadung gembar-gembor kesana-kemari (kadang sambil jualan STBπŸ™‚) bahwa tanggal itu siaran digital resmi menggantikan siaran analog, ternyata wes ewes-ewes bablas tiada bukti. Dalam artian: siaran analog masih bisa dinikmati. 

Mengacu pada ASO tahap pertama yang tak terealisasi sesuai rencana, pada ASO tahap kedua yang awalnya diketok tanggal kemarin, saya santuy saja. Paling mleset lagi. Dan, begitulah adanya. Hari-hari mendekati ASO, lahirlah istilah Multiple ASO.


Istilah itu berarti acuan ASO tergantung kesiapan para pihak di wilayah layanan siaran. Baik pihak LPS maupun pihak pemirsa. Pada titik itu, bagaimana ya bila, misalnya, LPS menunggu pemirsa punya STB baru mematikan siaran analognya, sementara pemirsa beranggapan 'untuk apa beli STB bila siaran tv (analog) masih bisa dinikmati.' Padahal dengan bersiaran secara simulcast begitu, pihak penyenggara siaran harus mensupply litrik di pemancar analog, juga digital. Boros di konsumsi listrik, iya. Tapi mau bagaimana lagi.

Jadi, apakah batas akhir 2 November 2022 besok ASO serentak bisa dilaksanakan? Harusnya bisa. Karena itu amanat Undang-undang. Karena kalau melanggar, artinya itu sama halnya dengan melanggar Undang-undang. Kecuali, mendekati injury time, UU-nya yang diubah. Ya siapa tahu.😊

Senin, 22 Agustus 2022

MOJI Nama Baru O Channel

ISTILAHNYA rebranding. Penamaan ulang. Pemberian nama baru. Agar apa?

Dalam masyarakat kita, terjadi pemberian nama baru untuk anak yang sebetulnya sudah punya nana, tentu ada tujuannya. Misal, nama lama terlalu 'berat'. Perlu diberi nama baru yang lebih enteng. Agar sesuai. Agar selamat, sehat dan hal-hal baik lainnya. Berarti nama lama kurang baik?

Bukan begitu. Ini sejenis kecocokan. Agar lebih cocok saja.

Perusahaan berganti nama juga biasa. Agar lebih sehat, sekaligus menyesuaikan dengan zaman. Termasuk juga menyesuaikan dengan misi-visi owner-nya. Termasuk nama stasiun tv diubah juga lazim-lazim saja. Misal TPI jadi MNCTV, Lativi jadi tvOne, tv7 jadi Trans|7 dll. Terbaru, O Channel jadi Moji.




Senin, 08 Agustus 2022

Tidak Jadi ASO, Tidak Asoy

SECARA coverage memang belum merata. Kita semua tahu itu. Pun secara jumlah siaran yang bisa ditangkap. Misal, di daerah Jakarta dapat 50 lebih saluran. Di Surabaya baru 29 channel. Di Jember malah agak melas; baru 19. Daerah lain lagi, bisa jadi cuma ketangkap sembilan atau di bawah jumlah itu malah.

Lalu? Semua memang masih dalam proses. Toh garis akhirnya baru tanggal 2 November 2022. Masih ada waktu. Walau itu tak lama. Dari waktu yang tinggal 3 bulan dari sekarang itu, semua masih bisa terjadi. Bukankah bangsa kita (mungkin terbiasa dari zaman sekolah, yang baru ngebut belajar tatkala besok hari ujian) suka bikin kejutan?

Catat: ASO tahap awal yang dijadwal tanggal 30 April kemarin, ternyata meleset dari harapan. Terkejut? Bagi teman-teman saya yang sudah kadung semangat sosialisasi --sambil jualan STB sih, itu tamparan mengejutkan. Dalam artian, bisa dituduh menyebar hoax oleh orang yang sudah telanjur beli set top box kepadanya. 

Padahal yang dikatakan teman saya itu benar, sesusai tahapan yang sudah disebarluaskan resmi oleh kominfo. Kalau lalu meleset, tentu yang bohong bukan teman saya. Entah siapa.

Sekarang bulan Agustus. Dan --sekali lagi-- sesuai jadwal yang dirilis Kemenkominfo, 25 Agustus ini adalah tahap kedua ASO. Sebagai orang yang mukim di Surabaya, harusnya saya berjingkrak senang. Karena Surabaya masuk wilayah yang ikut ASO tahap dua ini. Bersama Makassar dan kota-kota lainnya.

Namun melihat ke sejarah tahap satu kemarin, kok saya jadi kurang yakin tahap dua ini bakal on target. Palingan hanya sebagian kecil dari kota-kota yang harusnya tivi analognya disuntik mati yang betulan dimatikan. Lainnya masih dibiarkan hidup. Entah sampai kapan. Sampai 2 November 2022, atau sampai ....

Terlebih ada kejutan kecil dari LombokTV. Yang kabarnya menang gugatan di MA. Bahwa, tak seharusnya ada kewajiban tv lokal untuk menyewa MUX. 

Berikutnya, O Channel yang sudah lama bersiaran digital di Surabaya, sejak tanggal 1 Agustus kemarin 'turun kasta': malah siaran analog. Simulcast sih. Karena yang digital tetap mengudara. Sementara, di jalur analog, si O Channel ini menempati kanal 46 UHF yang selama ini ditempati BBSTV. Awalnya logo BBSTV masih ada di layar, hanya diturunkan ke kanan bawah, sedangkan logo O Channel bertengger di kanan atas. Namun barusan saya lihat, logo BBSTV sudah tidak ada. Praktis jalur 46 UHF ini dipakai O Channel.

Dalam rangka apa? Adakah itu tanda-tanda ASO akan diundur (lagi)? Atau itu semacam langkah strategis dari Emtek grup untuk mendongkrak rating O Channel. Karena, konon, rating televisi di Indonesia masih berdasar hasil survey AC Neilsen yang disampaikan penonton siaran tv analog, bukan digital. 

Hanya itu selentingan-selentingan yang saya dengar. Selebihnya, berita di ruang publik hari-hari ini didominasi oleh kasus polisi tembak polisi di rumah polisi yang sedang diselidiki oleh polisi. Sekalipun begitu, di layar kaca tetap ada teks yang mengabarkan bahwa semua siaran tv analog akan dimatikan tanggal 2 November 2022. Jadi masih ada harapan. Semoga terjadi betulan. Karena, zaman sudah serba digital begini, masa masih betah nonton tivi dengan gambar yang kepyur bersemut begitu. Kurang asoy kan?*****





Minggu, 19 Juni 2022

1 STB untuk 2 TV Tabung

SATU STB untuk dua pesawat televisi, saya pernah. Artinya bisa. Tetapi ya itu: siaran yang ditampilkan pada masing-masing layar sama, persis. Kenapa? Ya karena memang sumbernya satu. Hanya yang satu pakai kabel RCA, satu tv lagi, yang jenis LED, saya pakai kabel HDMI. 


Karena pada bagian belakang STB memang tersedia dua jenis output itu. RCA dan HDMI. Nah, tempo hari ada penonton Youtube saya yang bertanya hal serupa, bedanya kedua televisinya masih jenis tabung. Yang tentu tidak ada colokan HDMI-nya. Sebagaimana lazimnya tv tabung, colokan yang tersedia hanya jenis RCA. Jadi, apakah bisa dengan memakai satu set top box untuk dua tv tabung?

Kebetulan saya ada jack T/Y RCA to RCA. Jadi langsung dipraktikkan. Saya ambil yang output video saja. Yang warna kuning. Nah, saya pasanglah si T/Y RCA to RCA tersebut di pantat STB. Jadi bercabang. Satu saya pasang untuk tv LED, satu lagi untuk tv tabung. Saya asumsikan keduanya sebagai tv tabung. Kan koneksinya sama: pakai kabel RCA. 

Hasilnya? Bisa. Bisa keluar gambar, bisa berhemat pula. Tetapi ya itu tadi, gambar di layar kedua tv tersebut sama. Ya namanya memang pakai satu STB.

Jack T/Y RCA to RCA

Hanya bermodal jack T/RCA to RCA yang sebiji paling mahal cuma lima ribu rupiah (untuk idealnya butuh tiga biji: audio 2 (putih, merah) video satu (kuning), output audio/video dari STB bisa dicabang.

Nah kalau tv yang satu di ruang tengah satunya lagi di kamar bagaimana? Gampang. Di pasaran ada kok kabel RCA ukuran panjang. Ada yang 5 meter, ada pula yang sepuluh meter.

Simple kan?****

Kamis, 16 Juni 2022

Agar Sinyal TV Digital Maksimal

AMBIL misal di Surabaya ini. Beberapa teman, di tempat berbeda, agak sulit lock siaran MUX Viva grup (antv, tvOne dan ArekTV). Ada beberapa penyebab. Dengan salah satu terduga; power MUX Viva memang belum 'seberapa'. Ini hanya semacam asumsi. Pihak Viva yang lebih tahu pasti. 

Berikutnya: antena.

Ada komentar masuk ke kanal Youtube saya, yang bertanya: "Mas, padahal siaran uang lain dapat, cuma antv, tvOne dan ArekTV yang belum nyantol, kenapa ya?".

Jawaban saya adalah, bila antenanya masih indor, dipasang di dalam rumah, cobalah pakai yang antena outdor. Dengan ketinggian --paling tidak-- lebih tinggi dari ketinggian rumah kita. Atau, lebih tinggi dari benda atau bangunan dimana arah antena kita terarah lurus ke menara pemancar yang kita hendak 'ditembak'. Harus los-dol, tiada penghalang. Bila itu juga sudah, langkah selanjutnya adalah menata arahnya. Geser ke kiri atau ke kanan secara perlahan, sambil dilihat bar sinyal. Di layar tivi. 

Pada remote control biasanya ada tombol info. Tekan itu. Maka muncullah bar sinyal. Yang memampang kekuatan dan kualitas sinyal pada masing-masing MUX.

Misal, kalau sedang mencari alias tracking sinyal MUX Viva, di Surabaya ini ada di 490 MHz / channel 23. Maka kita setting ke frekuensi itu. Betul, kalau istilah mencari sinyal satelit, tahapan itu dinamakan kita sedang memasukkan transponder

Kalau frekuensi MUX alias siaran Viva belum tersimpan pada STB, langkah kita itu sebagai sedang scan manual. Karena kalau pakai mode pencarian otomatis, sinyal yang ditangkap hanya yang jos-jos saja. Sinyal yang 'lemah syahwat'? Lewaaat...

Nah, kembali ke layar tivi. Perhatikan bar sinyal. Lalu tolehkan antena ke kiri, perlahan. Terus. Lagi, pelan-pelan. Kalau belum juga dapat sinyal, coba antena arahnya digeser arah nganan. Perlahan. Terus. Pelan-pelan. Nah, bila ada tampak sebersit sinyal, biasanya ditandai dua atau tiga garis indikator, maksimalkan lagi. Sampai didapat prosentase tertinggi. Niscaya saat ditekan tombol pencarian, bila kekuatan dan kualitas telah termaksimalkan saat tracking tadi, siaran  dari MUX yang kita tuju dapat ter-lock siarannya.

Demikian, semoga berhasil. .****